Rabu, 02 Desember 2015

Huruf Braille Dalam Islam


   Mata merupakan cara utama untuk mengenali dunia yang ada di sekeliling kita. Jadi saat seseorang menjadi buta maka dia akan lebih mengandalkan panca indra lainnya seperti pendengaran, peciuman, peraba, dan pengecap. Seorang tunanetra yang tidak bisa melihat apapun mereka harus meraba untuk dapat mengartikan objeknya, sama dalam hal membaca mereka harus meraba tulisan dalam huruf braille untuk dapat membacanya. Tentu keberadaan dari huruf ini sudah tidak asing lagi, bahkan kita sudah mengetahui bahwa huruf tersebut sering digunakan oleh orang yang tidak bisa melihat sebagai salah satu cara untuk membaca. Tapi, sebenarnya apa itu huruf braille?
    Huruf braille adalah suatu sistem tulisan yang menggunakan titik-titik timbul yang mewakili karakter tertentu. Huruf yang diciptakan oleh Louis Braille ini pada awalnya diperuntukan untuk orang tunanetra dan sekarang huruf tersebut sudah berkembang luas ke seluruh dunia hingga telah banyak membantu orang-orang yang memiliki penglihatan kabur sampai buta total.
    Pada tahun 1851 tulisan Braille diajukan kepada pemerintah negara Perancis agar diakui secara sah oleh pemerintah. Dan pada akhir abad ke-19 sistem tulisan ini diakui secara universal dan diberi nama tulisan Braille. Dunia modern boleh jadi mengenal Louis Braille sebagai satu-satunya penemu sistem penulisan bagi kalangan tunanetra. Tapi, tahukah anda bahwa dahulu peradaban islam telah lebih dulu mempeloporinya.
    Dahulu pada 600 tahun sebelum Braille, peradaban islam telah lebih dulu mempelopori lahirnya sistem tulisan bagi kaum tunanetra. Sayangnya hal penting yang diciptakan ilmuwan muslim diabad ke-13 masehi itu seakan lenyap ditelan zaman. Iya dia adalah  seorang profesor muslim yang bernama Al-Amidi, yang telah merintis penciptaan sistem penulisan bagi orang tunanetra. Sejak terlahir kedunia Al-Amidi sudah dalam keadaan kondisi buta. Meskipun begitu ilmuwan asal Surya ini ternyata ahli dalam bidang hukum dan bahasa asing.
    Al-Amidi memang seorang tunanetra, tapi ia mampu melakukan hal-hal yang justru belum tentu dapat dilakukan oleh orang yang dapat melihat. Barkah seperti itu mampu dimanfaatkan oleh Al-Amidi untuk menggali ilmu, dengan kemampuan meraba dan menyentuh ia berhasil menciptakan sebuah sistem penulisan untuk kaum difabel. Dengan sistem penulisan yang diciptakannya ilmuwan yang wafat pada 1314 masehi itu dapat membaca dan menulis buku.
    Namun, sayangnya jasa dan dedikasi Al-Amidi dalam menciptakan sistem penulisan untuk kaum difabel itu seperti hilang ditelan zaman. Bahkan sejarah juga seakan melupakan hal yang tak ternilai yang telah diberikan ilmuwan muslim tersebut. Tak hanya karyanya yang terkubur zaman sosok Al-Amidi pun juga nyaris tak pernah disebut-sebut dalam sejarah peradaban islam.
    Selain Al-Amidi era keemasan diperadaban islam juga mencatat sederet ilmuwan dan ulama muslim lainnya yang juga menyandang tunanetra. Ada yang sejak lahir mengalami kebutaan, ada yang mengalami kebutaan pada usia tua, bahkan ada juga yang sudah terlahir dengan kekurangan. Siapa sajakah mereka?
ABDULLAH IBNU UMMU MAKTUM
    Abdullah adalah sahabat Rasulullah saw yang menyendang tunanetra, tak hanya sekedar sahabat bagi Rasulullah saw Abdullah adalah keponakan Siti Khadijah . Dia menyaksikan bagaimana islam berkembang pesat di Mekah dan Madinah. Sejarah peradaban islam mencatat Abdullah sempat memainkan peranan penting dalam komunitas muslim pada zamannya, salah satu kelebihan yang dimiliki ialah daya ingat yang luar biasa. Maka tak heran jika Abdullah menjadi salah seorang sahabat yang bertugas untuk menghapal Al Quran.
ABDUR-RAZZAQ BIN HUMAM
    Abdur Razzaq adalah seorang ulama yang memiliki pengetahuan luar biasa dan juga seorang ahli hadis. Pada awalnya penglihatan Abdur Razzaq normal namun memasuki usia tua dia mengalami kebutaan meski begitu dia tetap dikenal sebagai ahli hadis yang memiliki hapalan yang tajam.
ABU IESA MUHAMMAD BIN IESA BIN SURA AT-TIRMIDZI
    Beliau dikenal sebagai ahli hadis yang termasyur. Murid imam Bukhori ini dikenal dengan panggilan At-Tirmidzi. Salah satu konstribusinya bagi pengembangan agama islam adalah kitab Al-Zami' yang menghimpun 4 ribu hadis Nabi Saw. Selain itu At-Tirmidzi juga berjasa dalam mengembangkan metodelogi hadis yang disusun dalam buku yang bertajuk Al-Ilal hingga ketika itu sang ahli hadis pun mengalami kebutaan dan beliau tutup usia pada tanggal 13 rajab 279 H.
    Perkembangan dalam peradaban islam ternyata menyimpan berbagai misteri yang belum terkuak seperti salah satu contohnya ialah penemu huruf braille, seperti yang selama ini kita ketahui penemu dari huruf braille itu bukan dari kalangan islam. Tapi, ternyata 600 tahun sebelumnya ilmuwan islam Al-Amidi telah menemukannya terlebih dahulu, tidak hanya itu beberapa ilmuwan islam seperti At-Tirmidzi yang terkenal dengan ahli hadis juga merupakan seorang penyandang tunanetra.
    Dengan adanya penjelasan ini semoga menjadikan kita pribadi yang lebih bersyukur atas apa yang telah kita miliki serta memacu semangat kita untuk jadi umat muslim yang berprestasi dan membanggakan, insyaallah.
    Oke teman-teman terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca postingan blog ini, semoga bermanfaat. Mohon rate, like, share, comment, saran, dan kritiknya dari kalian semua. Saya Putri Yasmin bye.
:)
My Instagram : Putriyasmint
My New Twitter : @Putriyasmin061
My Pin BBM : 59A73C45
#Mariberteman
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar